Definition List

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label SYIAH DI INDONESIA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SYIAH DI INDONESIA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Agustus 2014

PENDEKATAN SUNNI SYIAH DI INDONESIA

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Salah satu bentuk gencarnya Syiah mengampanyekan pahamnya sekaligus usaha mereka melegalisasi keyakinannya adalah melalui seruan Taqrib Baina Sunni wa Syi’i (Pendekatan Antara Sunni dan Syi’ah). Sebenarnya gagasan ini adalah misi lama dari Khomeini, dan setelah dua puluh tahun meninggalnya, pendekatan antara Sunni-Syiah terus berjalan.
Sebelumnya, di Mesir upaya taqrib ini telah digagas. Sebuah lembaga yang bernama “Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah”, didirikan oleh Mahmud Syaltut, Wakil Rektor Universitas al-Azhar pada 1957 M. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perselisihan dan perpecahan yang ada antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Lembaga ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab Islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internal Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam) di Iran. Selain Mahmud Syaltut, Muhammad Mustafa Maraghi, Ayatullah Burujerdi, Hasan al-Banna juga menjadi penggagas ide pendekatan antara Sunni-Syiah.
Senin, 5 Nopember 2012, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Iran, mengadakan seminar internasional dengan tema “Persatuan Umat Islam Dunia (International Seminar of Islamic World Unity)” di Auditorium Al-Jibra Kampus II UMI. Yang menjadi narasumber pada seminar tersebut adalah
- pihak pemerintah diwakili oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H.Nasaruddin Umar, MA;
- Nahdatul Ulama (NU) diwakili oleh mantan ketuanya selama dua periode, Dr. K.H. Hasyim Muzadi;
- Muhammadiyyah diwakili oleh Ketua Umum Muhammadiyyah saat ini, Dr. Din Syamsuddin;
- Majelis Ulama Pusat, diwakili oleh sang motor penggerak persaudaraan Sunni-Syiah, Prof. Dr. Umar Shihab, MA;
- pihak Syiah sendiri diwakili oleh Sekjen Majma’ Taqrib Bayna Madzahib, Muhammad Ali Taskhiri, Maulawi Ishak Madani, dan Dr. Mazaheri.
Seminar tersebut juga dihadiri oleh Dubes Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh. Tampil pula Prof. Dr. Ghalib MA, Wakil Koordinator Kopertis Wilayah VIII. Nama-nama yang tercantum di atas secara umum menyerukan persatuan sebagaimana tema seminar itu sendiri.
Dubes Iran dalam sambutannya mengajak para peserta untuk bercermin pada ritual haji. Para hujjaj mengenakan baju dengan warna yang sama, shalat di mesjid yang sama, menghadap pada kiblat yang sama, serta bersama-sama berthawaf di sekeliling Ka’bah. Inilah contoh konkret bahwa pada dasarnya umat Islam itu memiliki kesamaan yang sangat esensial.1
Adapun Wamenag RI, Nasaruddin Umar, mengutip sebuah perkataan, “Orang yang sering menyalahkan orang lain adalah orang yang sedang belajar, tetapi orang yang tidak mau menyalahkan orang lain adalah orang yang telah khatam belajar.”
Adapun Prof. Din Syamsuddin, memandang pentingnya persatuan Sunni-Syiah, karena umat Islam saat ini berada dalam kubang keterbelakangan, hanya sibuk menyalahkan antara satu dan yang lain, serta mengklaim hanya dirinyalah yang benar lalu tidak mau menerima kebenaran orang lain. Orang-orang seperti ini, menurut Ketua Muhammadiyyah ini, nanti akan menjadi orang kecele di surga.2
Pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung pada 4—6 Mei 2008 lalu di Teheran, yang dihadiri sekitar 400 orang dari berbagai belahan dunia, Din Syamsuddin yang bicara pada sesi pertama bersama enam tokoh lainnya, menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tetapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Oleh karena itu, lanjutnya, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu, perlu dikembangkan sikap tasamuh atau toleransi.
Tokoh lain yang tidak boleh dilupakan, yang begitu semangat menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah, adalah Quraish Shihab. Dalam bukunya yang berjudul “Sunni-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?”, ia mengatakan, “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada dua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab, di mana pun ditemukan adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam hal ushul (prinsip-prinsip dasar keimanan), tidak juga dalam rukun-rukun Islam3.” (cet. 1 hlm. 265)
Sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa Islam telah merumuskan jalan kepada umatnya untuk membangun persatuan dan kesatuannya. Allah l berfirman,
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)
Ayat ini adalah perintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah Ta’ala, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta bersatu di atas petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidaklah terjadi perpecahan dan perbedaan melainkan karena jauh dari pemahaman atau keyakinan ini.
Bahkan, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah harus dijadikan sandaran oleh umat Islam ketika terjadi perselisihan dan perbedaan cara pandang atau penafsiran. Allah l berfirman,
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا (59) } [النساء: 59]
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan/ulama) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)
Akan tetapi, metode ini tentu hanya akan berlaku bagi penganut Islam yang sesungguhnya, yang berjalan di atas petunjuk Allah l. Adapun orang yang mengaku beragama Islam padahal sejatinya musuh Islam, maka wajib dibongkar keadaannya, agar umat Islam tahu tentang permusuhannya terhadap Islam, dan tidak ada celah baginya untuk menempuh metode ini.
Sunni atau Sunnah dan Syiah atau tepatnya Rafidhah, adalah dua kutub yang berlawanan, dua kelompok yang berbeda dan dua ideologi yang bertentangan. Antara keduanya tidak akan ada titik temu.
Mazhab Ahlus Sunnah berdiri di atas keyakinan mengutamakan para sahabat secara umum, dan mengutamakan sahabat Abu Bakr dan Umar atas seluruh umat, serta meyakini bahwa khalifah setelah Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam adalah Abu Bakr.
Begitupun dalam soal tauhid, mazhab mereka adalah beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang maksum (terjaga dari kesalahan) selain Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam. Tidak ada yang maksum dari umat ini selain beliau Shallallahu ‘alahi wa Sallam.
Adapun Rafidhah, mazhabnya berdiri di atas kebencian kepada para sahabat, bahkan memvonis mereka semua sebagai orang fasik dan kafir, kecuali beberapa orang saja.
Maka dari itu, seruan pendekatan antara Sunni-Syiah, atau Sunnah dan Rafidhah, menyerupai seruan pendekatan antara Nasrani dan Islam. Sudah pasti, kekafiran dan keislaman adalah dua hal yang berlawanan, tidak akan bersama. Demikian pula halnya antara sunnah dan bid’ah.
Kelompok Rafidhah adalah kelompok yang paling jelek di tengah-tengah umat ini. Di samping prinsip-prinsip dasarnya adalah kekufuran, kelompok ini juga diwarnai oleh prinsip-prinsip dasar Mu’tazilah dan Tasawuf, yaitu praktik syirik di kuburan. Kelompok Rafidhah dibangun di atas dasar keyakinan ekstrem kepada ulama dan imam-imamnya. Mereka membangun kubah di atas kuburan-kuburannya dan melakukan ritual haji ke kuburan-kuburannya, persis seperti ritual haji ke Baitullah al-Haram.
Maka dari itu, yang menyuarakan pendekatan antara Sunnah dan Syiah, boleh jadi tidak mengetahui hakikat kedua mazhab itu, atau berpura-pura tidak tahu dan bodoh. Umumnya, orang yang menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah itu membuat pengaburan, penipuan, dan pembodohan. Apabila ada dari kalangan Sunni yang melakukannya, mereka adalah orang-orang yang tertipu. Ia mengira bahwa perselisihan dan perbedaan antara Sunnah dan Syiah layaknya perbedaan antara mazhab-mazhab fikih, seperti Hambali, Syafi’i, Maliki, dan Hanafi.
Asy-Syaikh al-Allamah Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata,
“Pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah adalah hal yang tidak mungkin karena akidah yang berbeda. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak ada sesuatu pun yang diibadahi bersama Allah Ta’ala, baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus, dan meyakini bahwa hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mengetahui perkara gaib.
Termasuk akidah Ahlus Sunnah adalah mencintai para sahabat Radhiyallahu ‘anhum, dan meyakini bahwa mereka makhluk yang paling baik setelah para nabi, dan yang paling baik di antara mereka adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali g. Adapun Rafidhah, menyelisihi semua itu.
Jadi, tidak mungkin menyatukan keduanya. Sebagaimana tidak mungkin menyatukan antara Yahudi dan Nasrani, musyrikin dan Ahlus Sunnah, maka demikian pula tidak mungkin adanya pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah, karena perbedaan akidah seperti yang telah dijelaskan di atas.” (Majmu’ul Fatawa Ibnu Baz)
_____________________________________________
catatan kaki :
1 Sesungguhnya, prinsip yang benar dalam menilai antara sesuatu dan yang lain bukan melihat dari sisi
kesamaannya. Jika demikian, antara Islam dan Yahudi pun ada kesamaan. Akan tetapi, kita justru melihat
kepada perbedaan-perbedaan yang mendasar. Dan antara Sunnah dan Syiah terdapat perbedaan mendasar
yang sangat banyak,. Rukun Islam dan dan rukun iman pun sudah berbeda. (-ed.)
Prinsip mengkritik sesuatu yang keliru adalah prinsip yang benar menurut agama dan akal sehat, dan ini
disepakati oleh semua orang yang berakal. Sebab, tanpa kritik ini, semua yang salah bisa dianggap benar.
Pernyataan di atas sangat berbahaya dalam bidang apapun, terlebih lagi dalam hal agama. (-ed.)
Ucapan ini jelas keliru. Sebab, rukun-rukun Islam menurut Syiah berbeda dengan rukun-rukun Islam menurut
kaum muslimin yang lain. LIhat Rubrik Kajian Utama, Asy Syariah edisi 092, “Syiah dan Imamah”. (-ed.)
(Majalah Asy Syariah edisi 102 hlm. 15—18)

SYIAH DI INDONESIA

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf
Bermula dari kepulangan Khomeini ke Iran pada 1 Februari 1978 dari pengasingannya di Paris, Khomeini langsung menyerukan penggulingan Perdana Menteri Shapour Bachtiar, yang menjadi kepanjangan tangan Shah Iran. Khomeini seakan-akan menjadi antitesa dari rezim Shah Iran yang disokong oleh Amerika Serikat. Ia seolah menjadi tokoh anti-Amerika dan Barat.
Karena itu, banyak kalangan muda di dunia Islam yang tertindas oleh rezim-rezim yang menjadi kaki tangan Amerika Serikat dan Barat, menemukan bentuknya yang baru, dan sosok Khomeini sepertinya menjadi pahlawan mereka. Kemudian dengan penuh semangat mereka mengidentikkan diri mereka ke dalam revolusi “Islam” Iran ala Khomeini. Inilah awal masuknya pengaruh Iran ke dunia Islam.
Sejatinya, revolusi “Islam” Iran itu tidak lain hanyalah revolusi kaum Syiah yang ingin meluaskan pengaruhnya ke dunia Islam sehingga banyak muncul kekuatan politik baru yang bercorak ideologi Syiah.
Sejarah Syiah di Indonesia memiliki alur yang sangat abu-abu. Banyak sekali klaim-klaim sejarah yang dimotori oleh kaum Syiah sendiri. Sampai hari ini, ada beberapa pihak yang menyimpulkan bahwa Syiah masuk ke Indonesia pada abad ke-12 Masehi, dibawa oleh bangsa Persia. Akan tetapi, hal ini kemudian dianulir oleh Syiah.
Salah seorang tokoh Syiah, Jalaluddin Rakhmat, ketika ditanya tentang kapan kali pertama Syiah masuk Indonesia, menjawab, “Tidak ada yang tahu pasti karena tidak pernah ada sejarah yang mencatatnya. Tapi saya duga, Islam yang pertama kali masuk ke Aceh sekitar abad ke-8 atau waktu Dinasti Abbasiyah. Ketika itu orang Hadramaut dari Arab masuk ke Aceh untuk berdakwah. Tapi mereka tidak menunjukkan dirinya Syiah, melainkan bertaqiyyah (berpura-pura) menjadi pengikut mazhab Syafi’i.” (www. tempo.co)
Demikianlah klaim Jalaluddin Rakhmat. Tentu, ini hanyalah sebuah klaim yang tidak bisa kita terima begitu saja. Sebab, orang-orang Hadramaut lebih dikenal sebagai penganut mazhab Syafi’i dalam hal fikih dan berpemahaman sufi.
Sebenarnya, pada 1976 di Indonesia telah berdiri sebuah yayasan yang menjadi corong Syiah, yaitu Yayasan YAPI (Yayasan Pesantren Islam di Bangil) yang didirikan oleh Husein al-Habsyi. Santri pada pesantren ini kemudian dituntut untuk mengkaji akidah Syiah secara mendalam. Lulusan pesantren ini pun banyak memotori dakwah Syiah di beberapa tempat di Indonesia dengan “visi” terselubung.
Sementara itu, 1979 adalah tahun terjadinya revolusi Iran. Perlu dicatat bahwa sebelum itu, beberapa orang Indonesia sudah ada yang belajar di Qum, Iran. Tempat ini merupakan wadah atau sebagai madrasah Syiah terbesar ke-4 di dunia, setelah Najaf dan Karbala di Irak, dan Mashad di Iran sendiri.
Ditinjau dari perjalanan sejarah, komunitas Syiah di Indonesia dapat dikategorikan dalam tiga generasi, yaitu:
1. Generasi utama.
Sebelum meletus revolusi Iran pada 1979, Syiah sudah di Indonesia, baik Imamiyah, Zaidiyah, maupun Ismailiyah. Mereka menyimpan keyakinan itu hanya untuk diri mereka sendiri dan untuk keluarga yang sangat terbatas. Karena itu, mereka bersikap sangat ekslusif, tidak atau belum punya semangat menyebarkan ajarannya kepada orang lain.
2. Generasi kedua.
Generasi ini didominasi oleh kalangan intelektual, kebanyakan berasal dari perguruan tinggi. Dari segi struktur sosial, generasi ini berasal dari kelompok menengah ke atas, mayoritasnya adalah mahasiswa dan akademisi perguruan tinggi. Sebagian referensi menyebutkan bahwa dakwah yang berporos di lingkungan mahasiswa terjadi pada rentang tahun 1970—1980-an. Mereka tertarik dengan pemikiran-pemikiran Syiah. Bersamaan dengan itu mahasiswa pun tertarik pada pemikiran Hasan al-Banna, Abul A’la al-Maududi, Sayyid Quthub, dan Ikhwanul Muslimin.
3. Generasi ketiga.
Kelompok ini—terutama lulusan Qum di Iran—mulai mempelajari fikih Syiah, bukan lagi sebagai pemikiran. Mereka cenderung berkonflik dengan kelompok lain, bersemangat misionaris yang tinggi dalam menyebarkan ajarannya dan cenderung memosisikan diri sebagai representasi orisinal tentang paham Syiah dan atau sebagai pemimpin Syiah di Indonesia.

Perkembangan Syiah di Indonesia

Setelah berhasilnya Revolusi Iran, berbagai varian tulisan yang berbau Iran mulai didistribusikan. Akibatnya, secara independen akidah Syiah tersiar di belantara nusantara. Tulisan-tulisan tokoh Syiah membanjiri toko-toko buku di Indonesia. Dikupaslah seputar revolusi Iran, Khomeini, dan filsafat Syiah yang miring, oleh penerjemah-penerjemah Indonesia.
1. Penerbitan Buku
Salah satu penerbit yang kemudian memfasilitasi buku-buku terjemahan  Syiah adalah Mizan, yang dipelopori oleh Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin. Mereka semua merupakan lulusan dari ITB. Mizan sendiri dibentuk pada 7 Maret 1983. Buku yang pertama kali diterbitkan sebanyak 2.000—3.000 eksemplar, berjudul Dialog Sunni-Syiah, Surat Menyurat antara asy-Syaikh al-Misyri al-Maliki, Rektor al-Azhar di Kairo Mesir dan as-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-Amili, Seorang Ulama Besar Syiah. Buku ini kemudian banyak menjadi perhatian saat itu.
Penerbit Syiah ini banyak dibantu oleh ayah Haidar Bagir, yaitu Muhammad al-Bagir al-Habsyi, yang dikenal sebagai tokoh yang mengidolakan Syiah. Pada akhirnya, penerbit Mizan banyak berperan dalam menerbitkan buku-buku pemikiran Syiah pada dekade 1980—1990, sehingga masyarakat pun mencap Mizan sebagai corong Syiah.
Kemudian Syiah menerbitkan sejumlah majalah dan buletin, hingga kini yang tersebar di antaranya;
- Majalah al-Quds, diterbitkan oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta dalam bahasa Indonesia;
- Majalah al-Mawaddah, diterbitkan oleh IJABI Cabang Bandung, Jabar;
- Majalah al-Hikmah, diterbitkan Yayasan al- Muthahhari Bandung;
- Bulletin al-Jawad dan al-Ghadir, diterbitkan oleh Yayasan al-Jawad Jakarta;
- Bulletin at-Tanwir, diterbitkan oleh Yayasan al-Muthahhari,
dan majalah serta buletin lainnya yang tersebar di Nusantara.
2. Pendirian Yayasan
Pada 3 Oktober 1988, Haidar Bagir, Agus Effendi, Ahmad Tafsir, dan Ahmad Muhajir, serta Jalaludin Rakhmat, mendirikan Yayasan Muthahhari. Jalaludin Rakhmat pada awalnya aktif berbicara seputar pemikiran Hasan al-Banna, Sayyid Quthub, dan Said Hawwa. Akan tetapi, pertemuannya dengan Husein al-Habsyi membuatnya berafiliasi kepada Syiah dan mulai aktif berbicara seputar akidah Syiah.
Orientasi dari Yayasan Muthahhari adalah SMA Muthahhari. Maka dari itu, SMA ini kemudian dikenal sebagai sekolah modern milik Syiah yang pertama di Kota Kembang Bandung.
Hingga 2001, Syiah telah mendirikan 36 yayasan di Indonesia dan terus bertambah sampai sekarang. Di antara yayasan yang telah mereka dirikan ialah
- Yayasan Fatimah, Condet Jakarta;
- Yayasan Al-Muntazhar, Jakarta;
- Yayasan Mulla Shadra, Bogor;
- YAPI, Bangil;
- Yayasan Al-Itrah dan Yayasan Al-Hujjah, Jember;
- Yayasan Madina Ilmu, Bogor;
- Yayasan Al-Baro’ah Tasikmalaya;
- Yayasan As-Salam, Majalengka;
- Yayasan Al-Mujtaba, Purwakarta;
- Yayasan Rausyan Fikr, Jogya;
- Yayasan Al-Ishlah, Cirebon;
- Yayasan Al-Wahdah, Solo;
- Yayasan Al-Amin, Semarang;
- Yayasan Safinatunnajah, Wonosobo;
- Yayasan Pintu Ilmu, Palembang;
- Yayasan Al- Hakim, Lampung;
- Yayasan Ulul Albab, Aceh;
- Yayasan Arridho, Banjarmasin;
dan lainnya.
3. Pendirian Pesantren
Selanjutnya, pada 1989, berdiri pesantren Al-Hadi di Pekalongan, Jawa Tengah, yang didirikan oleh Ahmad Baragbah dan Hasan Musawa. Pendirian ini didesak guna menjembatani para pelajar Syiah untuk bisa melanjutkan studi ke Qum, Iran.
Kini diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang dikirim ke Iran untuk belajar, di samping ribuan lainnya yang sudah pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan, dan kegiatan lainnya.
Di antara tempat pengajian, sekolah, dan pesantren milik Syiah adalah MT. Ar-Riyahi; Pengajian Ummu Abiha, Pondok Indah Jakarta; Pengajian Al-Bathul, Cililitan Jakarta; Majlis Ta’lim Al-Idrus, Purwakarta; Majlis Ta’lim An-Nur, Tangerang; MT Al-Jawad, Tasikmalaya; dan Majlis Ta’lim Al-Alawi, Probolinggo.
Dalam kategori pesantren, tercatat
- Pesantren YAPI, Bangil;
- Pesantren Al-Hadi, Pekalongan;
- SMA PLUS MUTHAHHARI, di Bandung dan Jakarta;
- ICAS (Islamic College for Advanced Studies), Jakarta cabang London;
- Sekolah Lazuardi dari Pra-TK sampai SMP, Jakarta;
- Sekolah Tinggi Madina Ilmu, Depok;
- dan Madrasah Nurul Iman, Sorong.
4. Pendirian Ormas
Pada 1998, turunnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan atau era reformasi membawa dampak yang cukup signifikan bagi pemekaran Syiah di Indonesia. Hal itu menjadi jalan mulus untuk menanam bibit Syiah di Indonesia.
Bahkan, pada orde Gus Dur, berdirilah untuk pertama kalinya ormas Syiah secara resmi yang bernama IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia). Ormas IJABI tepatnya berdiri pada tahun 2000 di Bandung dengan Jalaludin Rakhmat menjabat Ketua Dewan Syura IJABI dan Dimitri Mahayana sebagai Ketua Dewan Tanfidziyyah. Posisi IJABI kemudian semakin kokoh setelah organisasi tersebut mendapatkan pengakuan legal formal dari Pemerintah Indonesia pada 11 Agustus 2000.
Sampai tahun 2008, anggota yang terdaftar mencapai jumlah 2,5 juta orang di 84 cabang dan 145 subcabang IJABI yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Pada kongres pertamanya di Bandung, Jalaludin Rakhmat memberikan klaim bahwa organisasi tersebut memiliki tiga setengah juta pengikut di seluruh Indonesia.
Organisasi lainnya yang didirikan Syiah antara lain
- Ikatan Pemuda Ahlulbait Indonesia (IPABI), Bogor;
- HPI—Himpunan Pelajar Indonesia—Iran;
- Shaf Muslimin Indonesia, Cawang;
- MMPII, Condet;
- FAHMI (Forum Alumni HMI), Depok;
- Himpunan Pelajar Indonesia di Republik Iran (ISLAT);
- Badan Kerja Sama Persatuan Pelajar Indonesia Se-Timur Tengah dan sekitarnya (BKPPI);
- dan Komunitas Ahlul Bait Indonesia (TAUBAT).
Kemudian pada 2011, di Bandung, kembali jamaah Syiah memprakarsai berdirinya Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) yang kemudian menjadi wadah sosial antara Sunni dan Syiah dalam versi yang ‘abu-abu’.
(Majalah Asy Syariah edisi 102 hlm. 11—14)

http://miratsul-anbiya.net/2014/08/05/syiah-di-indonesia/