Kamis 18 sept 2014, Limo Depok.
kary Al Imam Asy-Syaikh Muhammad ibnu Shaleh al Ustaimin rahimahullah
1. perbaikan secara dzahir (tampak kelihatan)
yaitu perbaiki pasar, masjid, dan yg selainnya dari perkara-perkara yg dzahir. Dan yng dominan keluar di bagian ini adalah laki-laki.
2. perbaikan masyarakat dari belakang tembok (dari dalam)
Ini dilakukan dari dalam rumah. Seorang wanita mengurus anak dan suaminya dari dalam rumahnya. Dan yang dominan disisi ini adalah perempuan. Karena wanita itu adalah nyonya rumah.
"Wahai istri-istri Nabi, kalian tidaklah sama seperti wanita yang lain, jika kalian bertakwa. Maka janganlah kalian merendahkan suara dalam berbicara sehingga berkeinginan jeleklah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan tinggallah kalian di rumah-rumah kalian dan janganlah bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliyyah yang dahulu. Tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai ahlul bait, dan membersihkan kalian dengan sebersih-bersihnya."
(HR. al-Bukhari no. 5885)
(masyarakat disini maksudnya adalah keluarga kita):
(HR. Muslim no. 1467)
"Dan seorang wanita tidak akan sampai kepada kesolehan selain dengan ilmu, yaitu belajar ilmu syar'i."
Orang-orang yg ingin al haq maka Allah akan tunjukkan jalan al haq. Yang jadi masalah adalah apakah ia mau mencari al haq atau diam saja.
Sampai kapan??
Sampai mati.
Menerangkan apa yang perlu ia terangkan. Bisa mengungkapkan apa yang ada didalam kalbunya.
Ia tidak serampangan didalam beraksi. Termasuk nikmat Allah subhanahu wata'ala kepada seorang hamba adalah bila Allah beri sifat Hikmah.
(Al-Baqarah: 269)
Diantaranya disebutkan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullaah:
“Tatkala kami dimasjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang A’rabi (Arab dusun) kencing di masjid, maka para sahabat menghardiknya, “Mah mah (yaitu pergi/tinggalkan)”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jangan kalian hardik, biarkan dia (jangan putus kencingnya)”.
Para sahabat membiarkan A’robi tersebut untuk menunaikan kencingnya, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Sesungguhnya masjid-masjid tidak boleh untuk kencing, tetapi dipergunakan untuk berdzikir kepada Allah, shalat dan membaca Al Qur’an”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat-sahabatnya, “Sungguh kalian diutus untuk memudahkan dan tidak untuk menyulitkan, guyurlah air kencing tadi dengan satu ember air”.
A’rabi itu berkata, “Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan jangan Engkau rahmati selain kami”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sungguh engkau telah mempersempit perkara yang luas.”
(Muttafaqun ‘alaihi)
- Sahabat itu orang yang ghirah kepada sesuatu dan memiliki kecemburun kepada kemungkaran. Kita tidak boleh mendiamkan kemungkaran dan mengingkari pelaku kemungkaran. ingkari dengan tangan kalau tidak bisa dengan lisan dan dengan hati.. tetapi kalau bersegera menghilangkan kemungkaran tadi akan mendatangkan kemungkaran yg lebih besar, maka ditahan dulu, hingga hilang kemungkaran yg lebih besar itu.
- Nabi membiarkan kemungkaran yang dilakukan oleh aroby (kencing didalam masjid) untuk menolak kemungkaran yg lebih besar (yaitu si Aroby menghadap orang2 dlm keadaan auratnya terbuka atau si aroby pindah tempat dalam keadaan kencingnya tercecer dan bila ditahan pipisnya akan mgenai celananya shg meinggalkan najis di celananya atau bila ditahan pipisnya akan mengakibatkan kesakitan bagi si aroby)
- Nabi bersegera menghilangkan kerusakan karena kalau didiamkan akan timbul kerusakan-kerudakan yg lain yaitu ketika si aroby selesai kencing maka langsung menyuruh sahabat untuk menyiram. Nabi pernah dikencingi anak kecil ketika sdg memangku anak kecil. Mereka adalah anak-anak para sahabatnya. Ketika dikencingi anak perempuan mk beliau mencuci pakaian yg terkena kencing. Karena kencing anak perempuan lebih berat daripada kencing anak laki-laki. Sedangkan kencing anak laki-laki hanya cukup di cipratkan air.
- Nabi mengajarkan kpd Aroby bahwa Masjid itu dibangun untuk dzikrullah, untuk beribadah kepada Allah dan bukan untuk dikotori, bukan untuk berjualan dan bukan untuk mengumumkan barang hilang.
- Seseorang kalau berbicara dgn hikmah kepada orang lain dengan kelembutan, ia akan dapatkan hasil yang lebih besar daripada ia memakai cara kekerasan.
, بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ . قَالَ « مَا لَكَ » . قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى وَأَنَا صَائِمٌ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا » . قَالَ لاَ . قَالَ « فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ » . قَالَ لاَ . فَقَالَ « فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا » . قَالَ لاَ . قَالَ فَمَكَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِىَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ – وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ – قَالَ « أَيْنَ السَّائِلُ » . فَقَالَ أَنَا . قَالَ « خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ » . فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا – يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ – أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى ، فَضَحِكَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ « أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ »
Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?”
Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.”
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?”
Pria tadi menjawab, “Tidak”.
Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”
Pria tadi menjawab, “Tidak”.
Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?”
Pria tadi juga menjawab, “Tidak”.
Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Di mana orang yang bertanya tadi?”
Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.”
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.”
Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.”
( HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111. )
“Tatkala aku shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba ada seseorang yang shalat itu bersin. Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu mendoakan, “Semoga Allah merahmatimu”.
Orang-orang yang shalat melihat kepadaku dalam rangka mengingkari.
Mu’awiyah mengatakan kepada mereka, “Kenapa kalian melihatku begitu?”
Orang-orang yang shalat memukulkan tangan-tangan mereka ke paha-paha mereka dengan tujuan supaya diam, maka Muawiyah pun diam tatkala mereka diam sampai selesai shalat.
Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Demi ibu bapakku, aku tidak pernah melihat seorang pengajar sebelum atau sesudahnya yang paling baik pengajarannya dibanding beliau, maka demi Allah, beliau tidak memojokkan aku, tidak memukulku dan tidak mencelaku”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Sesungguhnya shalat ini tidak boleh sesuatu pun padanya yang berupa ucapan manusia, tetapi shalat itu tasbih, takbir dan membaca Al-Qur’an”.
Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku baru lepas dari masa jahiliyah, dan Allah datangkan Islam. Dan sesungguhnya ada di antara kami orang-orang yang mendatangi dukun yang mereka mengakui ilmu ghaib”.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jangan kamu mendatangi mereka!!”
Mua’wiyah radhiyallahu ‘anhu, “Dan di antara kami ada orang-orang yang ber-tathayur (menganggap sial dengan sesuatu).”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Itu adalah sesuatu yang didapatkan pada dada-dada mereka, maka jangan sampai menghalangi mereka dari tujuan-tujuan mereka, karena yang demikian itu tidak berpengaruh, tidak mendatangkan manfaat mau pun mudharat.”
(HR. Muslim)
kemudian ada yang berkata kepada laki-laki tersebut: ” Ambilah cincinmu dan manfaatkan-lah.”
Dia menjawab: ”Tidak, demi Allah saya tidak akan mengambilnya selama-lamanya karena Rasullullah tekah melemparnya.”
[HR Muslim]
Mohon maaf apabila ada ketidak sempurnaan dalam penulisan yaa...












